Labamu

Harga Grosir: Pengertian, Cara Menentukan, hingga Metode Perhitungannya

Share the Post:

Menentukan strategi harga yang tepat adalah kunci keberhasilan bisnis grosir. Tantangannya terletak pada menemukan titik keseimbangan antara menjaga volume penjualan tetap tinggi dan memastikan keuntungan tetap sehat. Jika harga dipasang terlalu rendah, persepsi produk bisa turun dan margin ikut tergerus. Sebaliknya, harga yang terlalu tinggi membuat bisnis kurang kompetitif dan berisiko kehilangan pembeli. Dalam artikel ini, kamu akan mempelajari cara menghitung harga grosir dan langkah-langkah praktis untuk menetapkan strategi harga yang lebih efektif. Yuk, simak sampai habis!

Pengertian Harga Grosir

Mengutip Shopify, harga grosir adalah harga khusus yang diberikan kepada retailer, distributor, atau pembeli B2B karena membeli produk dalam jumlah besar. 

Dalam rantai pasok, harga yang diberikan lumrahnya lebih rendah dibandingkan harga retail karena model bisnis grosir mengandalkan economies of scale, yaitu keuntungan yang muncul ketika penjualan dalam volume besar mampu menutupi biaya produksi dengan lebih efisien.

Dengan kata lain, grosir bermain pada skala besar, bukan pada margin besar. Sebaliknya, ritel memiliki margin lebih tinggi, tetapi membutuhkan usaha dan biaya lebih untuk menjual produk satu per satu.

Meski begitu, MYOB menekankan bahwa harga grosir harus tetap mampu mengcover seluruh biaya yang diperlukan untuk menghasilkan produk—mulai dari biaya produksi, overhead, hingga margin keuntungan yang ingin dicapai oleh pihak grosir.

Cara Menentukan Harga Grosir

Menetapkan harga grosir bukan hanya soal memberi potongan harga. Kamu perlu memastikan bahwa harga yang ditawarkan kompetitif, tapi tetap mampu menutup biaya dan menghasilkan margin keuntungan yang sehat. Berikut langkah-langkah untuk menentukan harga grosir yang tepat.

1. Mulai dengan Menghitung Seluruh Komponen Biaya

Fondasi harga yang sehat adalah pemahaman menyeluruh terhadap seluruh biaya yang terlibat untuk menghasilkan produk. Hitung semua komponen biaya, termasuk bahan baku, tenaga kerja, proses produksi, packaging, logistik, sampai biaya operasional harian seperti listrik, sewa, dan gaji staf. Ketika kamu tahu betul total biaya per unit, risiko memasang harga di bawah modal bisa dihindari.

2. Tetapkan Margin dan Target Laba yang Jelas

Setelah memahami seluruh komponen biaya, kamu bisa menentukan margin yang masuk akal. Tentukan juga target laba per unit atau target laba bulanan yang ingin dicapai. Dari sini, kamu bisa menentukan batas harga minimum—harga terendah yang tetap aman dan tidak membuat bisnis merugi. Langkah ini memastikan kamu tidak terjebak menjual terlalu murah demi mengejar volume.

3. Lakukan Analisis Pasar dan Peta Kompetisi

Harga grosir harus kompetitif, tetapi bukan berarti harus paling murah. Pelajari berapa harga grosir standar di niche kamu, bagaimana strategi kompetitor, serta apa yang menjadi preferensi pembeli B2B. Dengan memahami landscape pasar, kamu bisa menempatkan harga pada posisi yang tepat—masih kompetitif, tetapi tetap menguntungkan dan sesuai dengan kualitas produkmu.

4. Pertimbangkan Nilai Produk dan Strategi Bisnis

Faktor seperti kualitas produk, diferensiasi, brand positioning, layanan purna jual, hingga minimum order quantity (MOQ) sangat memengaruhi harga grosir. Produk dengan nilai tambah biasanya memiliki ruang margin yang lebih besar. Karena itu, pastikan harga grosirmu mencerminkan nilai yang ditawarkan, bukan sekadar mengikuti harga pasar semata.

5. Sesuaikan Harga dengan Volume dan Pola Pembelian

Pada prinsipnya, semakin besar volume yang dibeli pembeli grosir, semakin efisien biaya yang bisa dicapai. Ini memungkinkan kamu memberikan harga bertingkat atau diskon volume tanpa mengorbankan profitabilitas. Selain menarik bagi pembeli grosir, strategi ini juga mendorong repeat order dan hubungan bisnis jangka panjang.

Metode untuk Menentukan Harga Grosir

Ada banyak strategi untuk menetapkan harga grosir dan berikut ini adalah beberapa teknik penentuan harga grosir yang paling umum digunakan oleh pelaku usaha untuk memperkuat strategi penentuan harga.

1. Keystone Pricing Method

Metode keystone adalah teknik yang sangat sederhana karena hanya menggunakan satu prinsip, yaitu harga retail adalah dua kali lipat dari harga grosir. Artinya, retailer mengambil markup 100% dari harga grosir yang kamu tetapkan.

Rumus:

Harga Grosir = Harga Retail ÷ 2

Contoh:

Jika suatu produk dijual di retail dengan harga Rp200.000, maka harga grosirnya adalah:

Rp200.000 ÷ 2 = Rp100.000

Kelebihan:

  • Mudah diterapkan tanpa perhitungan rumit.
  • Cocok untuk produk dengan struktur biaya stabil.

Kekurangan:

  • Tidak mempertimbangkan persaingan, permintaan, atau nilai produk.
  • Harus mengumpulkan data harga retail yang akan digunakan pembeli.

2. Absorption Pricing Method

Metode absorption menghitung harga grosir berdasarkan seluruh biaya yang “diserap” oleh produk—mulai dari biaya produksi hingga biaya overhead—lalu menambahkan margin keuntungan yang diinginkan.

Rumus:

Harga Grosir = Total Biaya per Unit + Margin Keuntungan

Contoh:

Misal biaya produksi per unit Rp50.000 dan biaya overhead per unit Rp10.000. Kamu ingin margin Rp20.000. Maka harga grosirnya adalah:

(50.000 + 10.000) + 20.000 = Rp80.000

Kelebihan:

  • Memastikan semua biaya tercakup sehingga profit nyaris pasti tercapai.
  • Tidak membutuhkan data pasar yang rumit.

Kekurangan:

  • Tidak mempertimbangkan harga kompetitor atau persepsi nilai.
  • Risiko harga terlalu tinggi sehingga pembeli beralih ke grosir lain.

3. Markup Pricing Method

Metode markup adalah pendekatan klasik yang menetapkan harga grosir berdasarkan persentase markup dari total biaya produksi. Berbeda dengan keystone (yang markupnya tetap 100%) dan berbeda dari absorption (yang hanya menambahkan nominal margin), metode ini menghitung harga dengan menambahkan persentase markup tertentu sesuai target keuntungan dan kondisi pasar.

Rumus:

Harga Grosir = Biaya per Unit × (1 + Persentase Markup)

Contoh:

Biaya produksi satu produk adalah Rp40.000. Jika kamu menetapkan markup 40%, maka harga grosirnya:

Rp40.000 × (1 + 0,4) = Rp56.000

Kelebihan:

  • Fleksibel karena persentase markup dapat disesuaikan dengan kategori produk.
  • Lebih realistis untuk bisnis grosir yang ingin menyeimbangkan daya saing dan margin.
  • Mudah diterapkan tanpa butuh data retail price (lebih fleksibel daripada keystone).

Kekurangan:

  • Masih belum mempertimbangkan kondisi pasar secara langsung.
  • Risiko menetapkan markup terlalu rendah atau terlalu tinggi tanpa riset kompetitif.

4. Differentiated Pricing Method

Metode ini menetapkan harga berdasarkan kondisi permintaan dan perilaku pembeli. Pembeli berbeda dapat menerima harga yang berbeda untuk produk yang sama, tergantung situasi pasar, musim, lokasi, atau tingkat persaingan.

Cara kerja:

  • Saat permintaan tinggi,  harga bisa dinaikkan.
  • Saat permintaan menurun, harga diturunkan untuk menjaga pergerakan stok.
  • Di lokasi dengan kompetisi rendah, harga bisa lebih tinggi.

Contoh:

Baju renang grosir bisa dijual lebih mahal saat awal musim panas, lalu diturunkan ketika musim berakhir. Contoh lainnya adalah harga minuman kemasan di area bandara yang biasanya lebih tinggi karena pembeli cenderung tetap menerima harga tersebut.

Kelebihan:

  • Memaksimalkan ROI dengan memanfaatkan kondisi pasar secara real time.
  • Membantu memahami perilaku pembeli grosir.

Kekurangan:

  • Ada risiko dianggap menaikkan harga secara berlebihan (price gouging) yang bisa merusak reputasi brand.
  • Perlu monitoring pasar secara konsisten.

5. Tiered Pricing Method

Metode ini memberikan harga berbeda berdasarkan jumlah pembelian. Semakin besar volume pembelian, semakin rendah harga per unit yang diberikan. Strategi ini efektif untuk mendorong pemesanan dalam jumlah besar dan meningkatkan loyalitas pembeli B2B.

Contoh struktur harga bertingkat:

  • Pembelian 100–499 unit: Rp20.000 per unit
  • Pembelian 500–999 unit: Rp18.000 per unit
  • Pembelian >1.000 unit: Rp15.000 per unit

Kelebihan:

  • Membantu meningkatkan volume penjualan secara signifikan.
  • Memberikan fleksibilitas bagi pembeli dengan kebutuhan berbeda.

Kekurangan:

  • Perlu perhitungan margin yang cermat agar diskon volume tidak menekan profit.

Menentukan harga grosir bukan sekadar menetapkan angka, tapi juga bagian dari strategi bisnis supaya tetap kompetitif. Nah, ketika struktur harga sudah optimal, langkah berikutnya adalah memastikan produkmu mudah ditemukan dan mudah dibeli oleh pelanggan grosir maupun retail.

Di sinilah kehadiran platform digital menjadi penting. Jika kamu ingin memperluas jangkauan pasar sekaligus mengelola penjualan dengan lebih efisien, kamu bisa memanfaatkan Labamu E-Commerce yangmemungkinkan kamu membangun website siap pakai dalam hitungan menit, tanpa perlu kemampuan coding. Yuk, langsung download aplikasinya lewat Google Play atau App Storesekarang!