Cara bisnis ritel dan F&B di Indonesia mengambil keputusan sedang berubah. Data operasional yang dahulu hanya menumpuk kini mulai diolah menjadi arah tindakan yang nyata, didukung perpaduan antara sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dan kecerdasan buatan. Topik inilah yang menjadi sorotan di panel B2B Tech Asia Expo 2026, pameran software bisnis B2B terbesar pertama di Indonesia, yang berlangsung 1-2 Juli 2026 di AXA Tower, Kuningan City Grand Ballroom, Jakarta.
Dalam sesi bertajuk “The Future of Retail Operations: How ERP and Autonomous AI Are Reshaping the Enterprise”, dua pendiri Labamu, Emmanuel van de Geer (Founder dan CEO) serta Kamal Shivdasani (Co-Founder dan COO), berbagi pandangan tentang bagaimana teknologi terintegrasi membantu bisnis mengambil keputusan lebih cepat dan beroperasi lebih cerdas.
Dari Mengumpulkan Data ke Mengolahnya Jadi Keputusan
Emmanuel membuka dengan satu pergeseran mendasar. Menurutnya, tantangan bisnis hari ini bukan lagi soal mengumpulkan data, melainkan mengubahnya menjadi wawasan yang bisa ditindaklanjuti.
“Organisasi hari ini menghasilkan data operasional dalam jumlah sangat besar. Tantangannya bukan lagi mengumpulkan data itu, melainkan mengubahnya menjadi wawasan yang bisa ditindaklanjuti agar bisnis merespons lebih cepat, beroperasi lebih cerdas, dan melayani pelanggan lebih baik,” ujar Emmanuel.
Ia menambahkan bahwa cara pelanggan berinteraksi dengan teknologi juga berubah cepat. Labamu menanggapi hal ini dengan menghubungkan layanannya ke asisten AI, sehingga pengguna dapat berinteraksi dengan sistem secara lebih alami, tanpa harus menelusuri banyak menu atau mencari informasi satu per satu.
AI sebagai Pendukung Keputusan, Bukan Pengganti Manusia
Kamal menyoroti bahwa di tengah kemunculan AI, bisnis tetap membutuhkan kemampuan mengambil keputusan secara real-time. Teknologi hadir untuk memperkuat kemampuan itu, terutama pada operasional sehari-hari seperti pengelolaan stok, penagihan, dan pencatatan inventaris.
Bagi Kamal, nilai AI yang sesungguhnya muncul ketika teknologi ini membantu pelaku usaha fokus pada hal yang benar-benar menggerakkan pendapatan, sementara pekerjaan operasional yang berulang menjadi lebih ringan dan efisien.
Retensi Pelanggan: Peluang Besar yang Sering Terlewat
Salah satu wawasan menarik dari Emmanuel berkaitan dengan pola bisnis F&B. Banyak restoran ramai di bulan-bulan awal, lalu perlahan kehilangan momentum karena kurang menjaga hubungan dengan pelanggan lama.
Di sinilah teknologi berperan. Emmanuel mencontohkan penggunaan AI untuk menyusun pesan retensi yang sangat personal, misalnya mengajak kembali pelanggan lama menjadi pelanggan aktif melalui pesan yang relevan dan tepat sasaran. Pendekatan ini membantu bisnis menjaga loyalitas pelanggan secara lebih terukur.
UMKM sebagai Tulang Punggung Ekonomi Indonesia
Emmanuel juga menekankan posisi unik Indonesia, di mana usaha kecil dan menengah menyumbang bagian besar dari produk domestik bruto sekaligus lapangan kerja. Menurutnya, memfokuskan inovasi teknologi pada segmen ini menjadi kunci masa depan ekonomi Indonesia.
Kamal melengkapi dengan sorotan tentang potensi merek lokal. Ia menilai kualitas produk Indonesia sudah sangat baik, namun banyak merek belum dikenal luas di pasar global. Ia mendorong pelaku usaha untuk mulai berpikir dalam skala global dan membangun kesiapan menuju ke sana.
Satu Nasihat untuk Pelaku Usaha di Era AI
Menutup sesi, keduanya berbagi nasihat praktis. Emmanuel menekankan dua hal: selalu berbicara dengan pelanggan, baik yang lama maupun calon pelanggan, untuk memahami harapan mereka, serta meluangkan waktu khusus untuk belajar karena teknologi berubah sangat cepat.
Kamal menutup dengan ajakan sederhana namun kuat: pelaku usaha perlu berani mengadopsi, belajar, dan berkembang. Alih-alih ragu terhadap teknologi baru, kuncinya adalah mulai melangkah.
Menerjemahkan Visi ke dalam Operasional Nyata
Pandangan yang dibagikan di panggung sejalan dengan arah produk Labamu. Sebagai platform ERP dan manajemen bisnis terintegrasi, Labamu membantu usaha kecil dan menengah mengelola operasional, penjualan, inventaris, keuangan, produksi, hingga hubungan pelanggan dalam satu sistem.
Untuk pelaku usaha F&B, Restaurant Management System (RMS) menyatukan manajemen tagihan, pembayaran, hidangan, dapur, dan meja dalam satu alur yang terkoordinasi. Untuk sektor manufaktur, Labamu Manufacturing mengintegrasikan perencanaan produksi, pengadaan, pengelolaan inventaris, pergudangan, distribusi, hingga pelaporan dalam satu sistem yang memberi visibilitas menyeluruh.
“B2B Tech Asia menjadi platform penting bagi para pelaku industri untuk bertukar gagasan, berbagi praktik terbaik, dan menjajaki bagaimana teknologi dapat menjawab tantangan bisnis yang nyata. Bagi Labamu, tujuan kami bukan hanya menyediakan solusi software, melainkan juga berkontribusi aktif membangun ekosistem bisnis yang lebih kuat dan siap digital,” ujar Kamal.
Melalui misi #GrowthSimplified, Labamu terus berfokus menghadirkan solusi yang menyederhanakan kerumitan operasional, sehingga bisnis dapat mengambil keputusan lebih baik dan tumbuh dengan percaya diri.
Informasi lebih lanjut tentang solusi Labamu tersedia di labamu.co.id.


