Labamu

Profit Margin: Pengertian sampai Cara Meningkatkannya

Share the Post:

Setiap bisnis tentu harus menghasilkan keuntungan agar bisa terus bertahan. Karena itu, penting bagi pemilik usaha untuk memantau profit secara cermat, mencari peluang efisiensi biaya, dan meningkatkan margin keuntungan. Dengan memahami rumus dan jenis-jenis profit margin, kamu bisa menilai seberapa efektif bisnismu menghasilkan laba dari pendapatan serta menemukan strategi terbaik untuk memperbesar keuntungan di masa depan. Yuk, baca sampai tuntas!

Pengertian Profit Margin

Mengutip laman Xero, profit margin adalah persentase pendapatan yang tersisa setelah semua biaya operasional bisnis dibayarkan. Semakin tinggi persentasenya, semakin besar laba yang berhasil dipertahankan perusahaan dari setiap rupiah penjualan. Hal ini menunjukkan seberapa efisien sebuah bisnis mengelola pendapatannya untuk menutupi biaya dan menghasilkan keuntungan.

Berbeda dengan net profit yang menunjukkan jumlah laba bersih dalam angka absolut, profit margin ditampilkan dalam bentuk persentase. Misalnya, jika perusahaan memiliki profit margin 35%, berarti setiap Rp1 penjualan menghasilkan laba Rp0,35.

Oracle NetSuite menambahkan bahwa perusahaan, analis keuangan, hingga investor menggunakan profit margin untuk menilai efisiensi operasional, membandingkan performa antarperiode atau antarperusahaan sejenis, serta mengidentifikasi area yang perlu efisiensi biaya. Margin yang sehat menandakan bahwa bisnis mampu menghasilkan pendapatan cukup untuk menutup biaya dan tetap kompetitif di industrinya.

Jenis-jenis Profit Margin dan Cara Menghitungnya

Ada tiga jenis profit margin yang digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas bisnis. Karena dinyatakan dalam bentuk persentase, metrik ini memudahkan kamu membandingkan kinerja keuangan antarperiode atau dengan bisnis lain. Berikut penjelasan dan cara menghitungnya.

1. Gross Profit Margin

Gross profit margin mengukur persentase pendapatan yang tersisa setelah dikurangi cost of goods sold (COGS) atau harga pokok penjualan. Ini merupakan indikator paling dasar untuk melihat seberapa menguntungkan produk atau jasa yang kamu jual.

Semakin tinggi marginnya, semakin besar selisih antara harga jual dan biaya produksi—artinya bisnismu cukup efisien dalam menghasilkan laba.

Rumusnya:

Gross Profit Margin = (Total Pendapatan – Harga Pokok Penjualan)Total Pendapatan 100%

Contoh:

Untung Company menjual kemeja seharga Rp200.000, dengan biaya produksi per kaus Rp100.000. Maka:

Gross Profit Margin =(200.000 – 100.000)100.000 100% = 50%

Artinya, Untung Company memperoleh margin laba kotor 50% atau laba Rp0,50 dari setiap Rp1 penjualan.

2. Operating Profit Margin

Operating profit margin menunjukkan laba yang tersisa setelah dikurangi biaya operasional variabel seperti gaji, sewa, bahan baku, dan utilitas—namun sebelum dikurangi pajak dan bunga. Rasio ini menggambarkan seberapa efisien bisnis menjalankan aktivitas intinya.

Margin yang tinggi menandakan bahwa pendapatan cukup besar untuk menutup seluruh biaya operasional dan masih menyisakan keuntungan.

Rumusnya:

Operating Profit Margin = Laba OperasionalTotal Pendapatan 100%

Contoh:
Jika perusahaan Pak Untung memiliki pendapatan Rp500.000.000 dan laba operasionalnya sebesar Rp120.000.000, maka:

Operating Profit Margin = 120.000.000500.000.000 100% = 24%

Dengan demikian, margin laba operasional perusahaan tersebut adalah 24%.

3. Net Profit Margin

Net profit margin adalah ukuran profitabilitas yang paling menyeluruh karena memperhitungkan seluruh biaya—mulai dari harga pokok penjualan, biaya operasional, bunga pinjaman, hingga pajak. Rasio ini menunjukkan seberapa besar laba bersih yang benar-benar dihasilkan dari total pendapatan bisnis.

Ketika orang berbicara tentang “profit margin” secara umum, biasanya yang dimaksud adalah net profit margin.

Rumusnya:

Net Profit Margin= (Total Pendapatan – Harga Pokok Penjualan – Biaya Operasional – Beban Lainnya – Pajak – Bunga)Total Pendapatan 100%

Contoh:
Sebuah perusahaan memiliki total pendapatan Rp600.000.000. Biaya produksinya Rp100.000.000, biaya operasional Rp200.000.000, dan pajak Rp20.000.000. Maka:

Net Profit Margin= (600.000.000 – 100.000.000 – 200.000 – 20.000.000)600.000.000 100% = 46,6%

Dengan demikian, besar net profit margin adalah 46,6%, yang berarti dari setiap Rp1 pendapatan, perusahaan memperoleh laba bersih sekitar Rp0,47.

Kenapa Profit Margin Penting?

Profit margin menjadi salah satu indikator utama untuk melihat kesehatan finansial bisnis. Berikut beberapa alasan kenapa profit margin sangat penting bagi bisnis:

  • Menunjukkan kesehatan keuangan bisnis dengan memahami seberapa efisien bisnis menghasilkan keuntungan dari pendapatan yang diperoleh.
  • Membantu pengambilan keputusan finansial, seperti menentukan strategi harga, menekan biaya operasional, atau menyesuaikan anggaran.
  • Menjadi pertimbangan investor dan lembaga keuangan dalam memberikan investasi atau pinjaman modal.
  • Membantu membandingkan performa antarperiode atau antarindustri dengan lebih mudah.
  • Memberi ruang untuk ekspansi dan inovasi jika bisnis memiliki cadangan dana lebih besar.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Profit Margin

Tingkat profit margin tidak hanya ditentukan oleh strategi internal, tetapi juga oleh berbagai faktor eksternal yang sering kali berada di luar kendali. Beberapa faktor utama yang memengaruhi profit margin antara lain:

  • Kondisi pasar dan strategi bisnis. Setiap industri memiliki karakteristik berbeda. Misalnya, bisnis ritel dan perhotelan umumnya memiliki biaya operasional tinggi sehingga margin keuntungannya lebih kecil dibandingkan industri konsultansi atau jasa profesional.
  • Perubahan ekonomi. Inflasi, fluktuasi harga bahan baku, dan kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya produksi dan operasional, sekaligus menekan margin keuntungan.
  • Lokasi usaha. Biaya sewa tempat, pajak daerah, dan regulasi setempat bisa berbeda-beda di tiap lokasi. Ini tentu memengaruhi biaya yang harus ditanggung.

Bagaimana Cara Meningkatkan Profit Margin?

Untuk meningkatkan profit margin, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Berikut di antaranya.

1. Mengendalikan Biaya Operasional

Tinjau kembali semua pengeluaran bisnis dan eliminasi biaya yang tidak perlu, seperti langganan layanan yang jarang digunakan. Selain itu, kelola biaya-biaya dengan lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas dan produktivitas.

2. Meningkatkan Efisiensi

Dorong tim untuk berinovasi dan berkolaborasi agar pekerjaan lebih efektif. Investasikan dalam pelatihan karyawan agar performa meningkat. Dengan proses yang lebih efisien, bisnis bisa menekan biaya tanpa mengurangi kualitas layanan.

3. Menyesuaikan Strategi Harga

Terapkan strategi harga yang fleksibel sesuai kondisi pasar, permintaan, dan musim. Kamu juga bisa menawarkan paket premium atau bundling produk untuk meningkatkan nilai jual. Pastikan pelanggan memahami nilai lebih yang ditawarkan bisnis kamu dibandingkan pesaing.

4. Membangun Loyalitas Pelanggan

Pelanggan setia memberikan aliran pendapatan yang stabil. Maka dari itu, bangun hubungan baik melalui layanan yang memuaskan, komunikasi yang konsisten, dan program loyalitas yang menarik agar mereka terus kembali membeli produkmu.

5. Mengoptimalkan Produk dan Portofolio Penjualan

Evaluasi produk atau layanan mana yang paling menguntungkan dan mana yang kurang menghasilkan. Fokus pada produk dengan margin tinggi dan pertimbangkan untuk mengurangi atau memperbaiki lini produk yang tidak efisien agar profitabilitas meningkat.

Profit margin bukan sekadar angka di laporan keuangan, lebih dari itu, ini menjadi indikator seberapa sehat dan efisien bisnismu berjalan. Namun, profit margin yang baik juga sangat bergantung pada bagaimana kamu menjual dan memasarkan produk.Di era digital, memiliki toko online yang profesional dan mudah dikelola bisa menjadi langkah strategis untuk memperluas pasar sekaligus menjaga margin keuntungan tetap optimal. Untuk yang satu ini, mulailah dengan Labamu E-Commerce yang menjadi solusi cepat untuk membangun toko online tanpa repot. Yuk, pelajari informasi selengkapnya di sini!