Istilah startup dan UMKM masih sering digunakan secara bergantian, padahal keduanya merujuk pada jenis bisnis yang berbeda secara mendasar. Perbedaan ini bukan hanya pada skala usaha, tetapi juga menyangkut ambisi, kebutuhan pendanaan, hingga tingkat risiko yang dihadapi. Memahami perbedaan startup dan UMKM menjadi hal penting, terutama kalau kamu sedang menentukan arah bisnis. Jadi, pelajari perbedaannya daripada salah langkah.
Apa Itu Startup?

Mengutip Salesforce, startup adalah perusahaan yang dibangun dengan tujuan untuk tumbuh cepat melalui inovasi, baik dengan menghadirkan solusi baru maupun menciptakan pasar yang sebelumnya belum ada.
Startup umumnya berawal dari tim kecil dengan sumber daya terbatas, lalu fokus mengembangkan produk atau layanan hingga menemukan product–market fit sebelum akhirnya melakukan ekspansi yang lebih luas.
Berbeda dari bisnis konvensional yang mengejar stabilitas sejak awal, startup justru kerap memanfaatkan teknologi atau model bisnis disruptif dan mengandalkan pendanaan investor untuk memperbesar skalabilitasnya.
Apa Itu UMKM?
Sementara itu, UMKM adalah usaha yang dijalankan dengan jumlah karyawan dan skala pendapatan yang relatif lebih kecil dibanding perusahaan besar yang biasanya dimiliki secara independen atau dikelola keluarga.
Berbeda dengan startup yang menargetkan pertumbuhan cepat, UMKM umumnya berfokus pada pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan sambil melayani kebutuhan pelanggan dan komunitas di sekitarnya.
Banyak UMKM lahir untuk menjawab kebutuhan pasar lokal atau niche tertentu—dan tidak sedikit yang memilih tetap berada di skala kecil karena sudah sesuai dengan tujuan bisnis pemiliknya.
Perbedaan Startup dan UMKM

Sama halnya dengan model bisnis lain, ada karakter unik yang membedakan startup dan UMKM. Keduanya memiliki pendekatan berbeda dalam hal pertumbuhan, operasional, dan definisi kesuksesan. Supaya lebih jelas, simak perebedaannya berikut ini.
1. Fokus Utama
Startup umumnya berfokus pada inovasi—baik melalui teknologi baru, model bisnis berbeda, maupun cara masuk pasar yang belum banyak dilakukan. Tujuannya adalah tumbuh cepat dan menguasai pasar yang luas.
Sebaliknya, UMKM lebih menekankan pada keberlanjutan sejak awal. Fokusnya adalah membangun pendapatan yang stabil, melayani kebutuhan pasar atau komunitas tertentu, serta mengembangkan bisnis berdasarkan permintaan yang sudah terbukti.
2. Tujuan dan Visi Bisnis
Sejak awal, startup biasanya memiliki visi untuk tubuh secara eksponensial dan ambisi untuk mendisrupsi industri tertentu. Target akhirnya biasanya berupa akuisisi atau IPO setelah berhasil menguasai pangsa pasar besar.
Sementara UMKM cenderung memiliki tujuan yang lebih realistis dan jangka panjang, seperti menjaga profitabilitas, kestabilan usaha, dan loyalitas pelanggan. Ekspansi besar bukan selalu prioritas utama, selama bisnis bisa berjalan konsisten dan sehat.
3. Pendanaan
Perbedaan lain yang cukup mencolok terlihat dari cara mendapatkan modal. Startup sering mengandalkan pendanaan eksternal seperti venture capital atau angel investor untuk mengejar pertumbuhan cepat, bahkan sebelum bisnis menghasilkan keuntungan.
UMKM biasanya menggunakan modal pribadi, tabungan pemilik, atau pembiayaan konvensional. Pendekatan ini membuat UMKM lebih berhati-hati secara finansial dan tidak terlalu bergantung pada pihak luar.
4. Pola Pertumbuhan dan Skalabilitas
Startup dirancang untuk mudah diskalakan sejak awal. Contohnya, aplikasi digital yang langsung menargetkan banyak kota atau negara dengan strategi pemasaran agresif dan tim yang fleksibel.
Sebaliknya, UMKM memilih tumbuh secara bertahap. Misalnya, usaha kuliner yang membuka cabang baru setelah konsep bisnisnya terbukti berhasil atau bisnis offline yang perlahan masuk ke kanal online untuk memperluas pasar.
5. Inovasi
Inovasi merupakan inti dari startup. Banyak startup hadir untuk mengubah cara lama dalam suatu industri, seperti Uber atau Airbnb yang menciptakan model pasar baru dan mendisrupsi industri terkait.
UMKM lebih mengutamakan konsistensi dan keandalan. Selama model bisnis yang ada masih relevan dan diminati pelanggan, UMKM cenderung mempertahankannya sambil fokus menjaga kualitas layanan.
6. Tingkat Risiko
Karena beroperasi di area baru dengan model bisnis yang belum teruji, startup memiliki tingkat risiko yang tinggi. Banyak yang gagal di tahun-tahun awal, meski potensi keuntungannya juga sangat besar.
Sementara itu, UMKM relatif lebih rendah risiko karena biasanya berjalan di pasar yang sudah ada dengan model bisnis yang terbukti. Inilah sebabnya lembaga keuangan cenderung lebih percaya memberikan pinjaman kepada UMKM.
7. Basis Pelanggan
Startup menargetkan pasar yang sangat luas, bahkan global, untuk mendukung pertumbuhan cepat dan menarik investor. Banyak startup juga membawa misi sosial besar yang mendorong mereka “bermain di skala besar”.
UMKM fokus pada pelanggan lokal atau niche tertentu. Hubungan jangka panjang, repeat order, dan loyalitas pelanggan menjadi kunci keberhasilan.
8. Struktur Tim dan Operasional
Tim startup biasanya kecil, dinamis, dan serba fleksibel. Peran karyawan bisa tumpang tindih dan kompensasi sering kali mencakup ekuitas untuk mendorong rasa kepemilikan.
Sebaliknya, UMKM memiliki struktur yang lebih stabil dan jelas. Walaupun jumlah timnya juga tak selalu banyak, tugas karyawan terdefinisi dan sistem operasionalnya lebih konsisten—mengingat fokus utamanya adalah efisiensi.
9. Strategi Pemasaran dan Penjualan
Startup cenderung menggunakan strategi pemasaran agresif dan kreatif, seperti kampanye digital besar-besaran, viral marketing, influencer, hingga storytelling untuk mempercepat akuisisi pengguna.
UMKM lebih mengandalkan pendekatan yang terbukti efektif, seperti promosi lokal, word of mouth, layanan personal, program loyalitas, dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Sebagai penutup, memahami perbedaan startup dan UMKM akan membantu kamu menentukan arah bisnis yang paling realistis dan sesuai dengan tujuan jangka panjang. Bagi UMKM, kunci pertumbuhan bukan selalu soal ekspansi besar-besaran, tetapi bagaimana operasional berjalan rapi, efisien, dan mudah dikontrol setiap hari.Untuk itu, kamu bisa memanfaatkan POS Kasir dari Labamu sebagai solusi digital yang membantu UMKM bekerja lebih cepat dan terstruktur. Mulai dari pencatatan transaksi otomatis, laporan penjualan dan stok real-time, hingga fitur pendukung seperti manajemen bahan baku, pembuatan tagihan, dan promosi—semuanya bisa diakses dengan tampilan sederhana langsung dari desktop. Penasaran dengan manfaatnya? Yuk, buruan download aplikasinya lewat Google Play atau App Store sekarang juga!


