Labamu

The Dead Stock: Cara Menjual Stok Mati agar Jadi Cuan

Share the Post:
Dead stock

Kamu pasti pernah menghadapi situasi ketika barang menumpuk lama di gudang tanpa bergerak sedikit pun, kondisi ini biasanya disebut sebagai dead stock. Kondisi tersebut sering muncul akibat salah prediksi permintaan, kelebihan pembelian, tren pasar meredup, atau produk kehilangan relevansi. 

Kamu perlu memberi perhatian khusus karena dead stock mampu menahan aliran kas bisnis, menghambat ruang penyimpanan, serta memperbesar risiko kerugian. Stok mati memang terlihat sepele, tetapi dampaknya cukup besar ketika dibiarkan terlalu lama. 

Memahami konsep ini sejak awal sangat penting, supaya tidak mengganggu arus operasional harian. Selain itu, kamu juga wajib memahami bagaimana cara penanganannya agar kembali barang bisa bergerak, apalagi era digital membuat peluang penjualan lebih terbuka.

Mengenal Dead Stock dalam Operasional Bisnis

Dead stock umumnya merujuk pada produk yang berhenti berputar lebih dari batas wajar siklus penjualan. Kamu bisa menemukannya pada produk musiman, barang fashion yang kehilangan tren, hingga item yang kurang diminati pelanggan. 

Stok mati yang tidak dikelola dengan baik bisa berdampak pada operasional bisnis, terutama pengadaan barang. Lalu, mengapa dead stock muncul? 

Stok mati muncul karena beberapa penyebab umum yang sering terjadi dalam bisnis skala kecil maupun besar. Kamu mungkin membeli produk terlalu banyak, salah membaca permintaan pasar, atau menghadapi perubahan selera pelanggan secara mendadak. 

Dampak dari kondisi ini langsung terasa dalam bisnis, misalnya biaya penyimpanan yang membengkak, gudang penuh, potensi kerusakan barang, dan kerugian.

Penyebab Dead Stock 

Seperti disebutkan sebelumnya, dead stock terjadi karena beberapa kondisi, mulai dari membeli barang berlebihan hingga barang tidak laku. Berikut penjelasan lengkapnya: .

1. Kelebihan Pembelian Barang

Kelebihan pembelian sering terjadi ketika kamu mengejar harga murah tanpa memahami pola permintaan pasar yang sebenarnya. Keputusan tersebut membuat stok menumpuk karena penjualan yang tidak sesuai jumlah stok. Alhasil, barang akan menumpuk di gudang. 

2. Perubahan Tren Pasar Terlalu Cepat

Perubahan selera pasar bisa membuat produk kehilangan relevansi hanya dalam hitungan minggu. Kategori seperti fashion, dekorasi, atau perangkat elektronik memiliki siklus tren pendek sehingga produk lama mudah tertinggal. Saat tren bergeser mendadak, stok lama berhenti bergerak dan menjadi beban penyimpanan.

3. Kualitas Produk Kurang

Barang kualitas rendah cenderung kehilangan ketertarikan pelanggan sehingga lebih mudah masuk fase dead stock. Pelanggan mungkin memberikan respons negatif sehingga menyebabkan permintaan menurun drastis. Kamu perlu memastikan kualitas pemasok tetap stabil supaya tidak menimbulkan penumpukan barang karena gagal memenuhi ekspektasi pasar.

Cara Mengubah Dead Stock Menjadi Cuan

Dead stock memang berdampak negatif untuk bisnis, tapi kabar baiknya, stok ini tetap bisa menjadi cuan. Tentunya jika kamu menerapkan strategi penjualan yang tepat. Ini yang dapat kamu lakukan untuk mengubah stok mati jadi ladang keuntungan baru: 

1. Beri Potongan Harga 

Potongan harga atau diskon menjadi cara promosi yang selalu mampu menarik perhatian pelanggan karena nilai penawaran yang terlihat lebih menguntungkan. Kamu bisa menyesuaikan besar potongan harga sesuai kondisi stok agar produk lebih cepat habis. Cara ini membantu arus kas tetap stabil sekaligus menurunkan biaya simpan. 

2. Jual Melalui Marketplace

Marketplace memberikan jangkauan lebih luas sehingga peluang menemukan pembeli baru semakin besar. Kamu dapat memanfaatkan flash sale, promosi grosir, atau kerja sama dengan reseller untuk mempercepat penjualan. Kanal alternatif juga membantu memindahkan stok mati dengan ritme yang lebih stabil meskipun penjualan utama sedang melambat.

3. Bundling Produk

Selain memberi diskon, bundling juga menjadi cara yang cukup efektif untuk mengatasi dead stock. Cara ini bisa kamu lakukan dengan menggabungkan produk yang tidak laku dengan barang paling diminati dengan harga yang lebih terjangkau daripada harga satuan. Selain membantu menghabiskan stok, cara ini juga meningkatkan penjualan bisnis. 

Tips Menghindari Dead Stock

Agar operasional bisnis berjalan optimal, dead stock tentu wajib kamu hindari. Berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan: 

1. Pantau Data Penjualan Secara Rutin

Data penjualan membantu mengetahui pola permintaan yang paling akurat untuk setiap periode. Informasi tersebut memungkinkan kamu menentukan volume pembelian yang sesuai tren. Pemantauan data rutin juga menurunkan risiko pengadaan berlebihan yang memicu dead stock.

2. Gunakan Sistem Inventaris Real-Time

Inventaris real-time sangat bermanfaat untuk mengetahui kondisi stok secara aktual tanpa harus memperbaruinya.  Proses ini mengurangi potensi kesalahan pencatatan yang sering menyebabkan stok terlihat tidak seimbang. Dengan pencatatan otomatis, aktivitas keluar-masuk barang tetap terkontrol.

3. Peka terhadap Perubahan Minat Pasar

Tren dan perilaku pelanggan memberi gambaran mengenai kebutuhan produk dalam jangka pendek maupun panjang. Ini sebabnya, kamu harus peka akan perubahan tersebut, sehingga kamu bisa memprediksi permintaan lebih realistis untuk menghindari pembelian berlebihan. Semakin tepat prediksi permintaan, semakin rendah peluang stok mati.

4. Cek Kualitas Barang Sebelum Masuk Gudang

Kualitas barang memberi pengaruh besar pada minat beli serta kepuasan pelanggan. Ini alasan kenapa kamu perlu melakukan pengecekan barang sejak proses penerimaan supaya tidak menimbulkan komplain yang menurunkan permintaan. Sebab, produk berkualitas rendah biasanya lebih cepat berubah menjadi dead stock.

Atasi Dead Stock dengan Aplikasi Kasir yang Tepat! 

Dead stock bisa memberi tekanan besar pada operasional apabila kamu tidak mengantisipasinya sejak awal. Strategi seperti menjual dengan diskon maupun bundling bisa jadi pertimbangan, seimbangkan dengan pembelian yang tidak berlebihan dan pencatatan stok otomatis. 

Tidak cuma itu, kamu juga perlu memperkuat pengawasan inventaris supaya potensi dead stock tidak muncul kembali. Proses monitoring teratur membantu kamu menyesuaikan jumlah barang dengan kebutuhan pasar sehingga stok tetap seimbang. Untuk pengelolaan inventaris yang lebih rapi, manfaatkan management Labamu dengan sistem manufaktur yang terintegrasi agar pencatatan, produksi, maupun distribusi berjalan lebih efisien. Yuk, pakai Labamu!